Yang paling menyedihkan jadi perantau adalah ketika rindu dan sakit.
Ketika rindu, hanya bisa mendengar suara dan memandangi potret yang
hilang derit. Ketika sakit, senantiasa berdoa: Tuhan, jangan belit
nyawaku di kota orang.
Entah kenapa jika membaca, menulis, mendengar, dan menyebut kata Ibu, saya terharu, gemetar, dan menitiskan air mata.
Aku
yang diterbangkan angin nasib seolah memanggul kayu di pundak. Kutempuh
jauh jarak dengan merangkak, memunguti butir-butir cahaya yang jatuh
dari langit ketujuh.
Dulu aku pernah mengunduh bintang dan
matahari untuk Ibu. Tapi jemariku melepuh, jemariku beranak pinak jadi
dua puluh. Lalu Ibu memegang jemariku dan berkata, "Sudahlah nduk, tak
usah susah unduh bintang dan matahari untuk Ibu. Cukup kau kecup peluh
Ibu."
Dalam jaga dan tidurku, aku melihatmu, Ibu, menunggu
kepulanganku di beranda rumah smabil mengasah pisau. Pisau buat
menyembelih leher liat rindu. Jangan membawa keranda dalam kepulanganmu.
Ibu,
sunyi-sunyi gesekan pisau dan batu asah itu seolah menujah-nujahku.
Darah yang bersimbah di lantai kamarku menguapkan aroma daun pandan
tubuhmu, wangi santan kelapa rambutmu, harum kesturi mulutmu.
Anakku, jika kau telah tiba, pisau ini akan menyayat urat nadi.
Sejak pagi sampai malam hari ia menanti Ibu lelap. Ia membuka
pelan-pelan pintu kamar. Mengendap-ngendap dengan mata lapar. Tapi
tiba-tiba Ibu terbangun. Dan meletakkan kembali pisau di dapur.
Tidakkah kau seperti aku? Diliputi bayang-bayang di genang kenang. Serupa langit memanggil cahaya: Ibu.
Aku rindu engkau, Ibu.
Kalau engkau mata air, akulah air matamu yang mengalir.
Engkau
mata air yang tak henti aku timba, kukuras untuk keperluan sehari-hari:
mandi dan mencuci, minum dan memasak lukaku, membasuh bebuahan dan
sayur mayur, berwudlu, juga untuk memandikanmu kelak kala engkau
meninggal. Itulah mata airmu, Ibu. Dan jika aku meninggal, kumandikan
jasadku dengan air mataku sendiri.
Akulah air matamu. Air
mata yang kualirkan untuk cinta yang tak kuasa kubalas, tak kuasa
kubayar dengan segala yang ada dalam tas. AIr mata yang kutumpahkan saat
mengingatmu, yang tertawa bahagia melihatku dulu.
Kau
melahirkanku dengan senyum, berharap aku menjadi bunga yang harum. Jika
kau petani, kau harapkan aku jadi menteri pertanian. Jika kau buruh
cuci, kau harapkan aku jadi juragan. Jika kau pelacur, kau harapkan aku
jadi gubernur. Jika kau pengemis, kau harapkan aku jadi dermawan yang
manis. Jika kau penjual kayu di pasar, kau harapkan aku jadi saudagar.
Jika kau guru, kau harapkan aku jadi mahaguru. Jika kau sinden, kau
harapkan aku jadi presiden.
Kau besarkan aku dengan air
susumu sampai dadamu tipis dan air susumu habis. Kau tetap menyusuiku
dengan air mata yang kauadon dengan embun pagi. Dan jika air matamu
kemarau, kau berlari-lari mencari mata air di celah-celah bebatuan, di
sela-sela akar kayu, di sempit dedaunan, di selebar langit. Kau tak
menjerit saat tubuhmu melepuh oleh terik matahari, kakimu tertusuk duri,
tersandung batu, tertembus kerikil tajam, tergores ilalang. Kau tetap
menerjang setiap penghalang. Luka dan duka kau bawa berlari. Pedih dan
perih kau rasakan sendiri. Kau masih mencari secangkir, sekendi,
segentong air untuk menghapus hausku.
Kukenang bagaimana
Siti Hajar berlari-lari mencari setetes air dari Bukit Shofa ke Marwa
tujuh kali putaran. Ia sabar dengan cuaca kasar demi buah hatinya,
Ismail. Ia tak peduli kaki tertembus kerikil. Ia tetap melangkah dalam
lelah dan peluh yang luluh. Sampai Ia peroleh mata air dari jemari
Ismail yang mungil.
Di mana ada kemauan, pasti tersedia jalan.
Itulah sabda yang ingin kau tanamkan dalam dadaku. Semua keinginan akan
terpenuhi jika ada kemauan. Segala harapan akan tergapai jika ada
kemauan. Setiap impian akan terwujud jika ada kemauan. Bermacam
cita-cita akan tergenggam jika ada kemauan. Kemauan adalah pintu menuju
kajayaan. Kemauan adalah jendela menuju kemakmuran. Tiada kemauan, tiada
kemenangan. Tiada kemauan berarti gagal total sebelum melangkah.
Kemauan adalah modal awal untuk menapak menuju puncak. Kemauan adalah
cahaya dalam gelap gulita. Kemauan adalah separuh kesuksesan.
Setiap
pagi kau tuang secangkir cinta, segelas kasih, semangkuk sayang ke
dalam mulutku. Sebagai bekal mengail ikan-ikan di sungai kehidupan.
Setiap
siang kau menjelma serimbun pohon. Kau memayungiku dari sengat api
matahari. Rimbun daunmu menenduhkan tubuhku. Buahmu mengeyangkan perut
laparku. Tubuhmu berpeluh, tubuhmu melepuh. Dan aku tertidur pulas
dikipasi angin semilir. Peluhmu mengalir. Mengalir dan mengalir.
Kala malam kau tambal robekan perjalananku. Kau jahit luka-luka di sekujur tubuhku. Luka itu mendewasakanmu.
Kau basuh dukaku yang basah dan kau balut dengan munajat doa-doa
berkah. Doa itu meng'ada'kanmu. Kau letakkan kepalaku di pangkuanmu.
Lalu kau selimuti aku dengan bacaan ayat-ayatNya. Aku tidur mendengkur.
Terlelaplah aku. Dan kau berjaga-jaga denga tegap dari serangan
nyamuk-nyamuk terkutuk.
Ketika subuh kau mengunduh embun
di rerimbun daun. Menampungnya ke dalam cangkir-cangkir. Lalu kau
alirkan ke mulut hausku. Dam kau minum air mata dan keringat yang
melekat di tubuhmu.
Kapan kau tidur, Ibu?? Maafkan anakmu yang belum mampu menjadi kasur dengkurmu.
Ibu memberi nasi, juga menyemai padi.
Ibu
lahir, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya dengan susah bertambah
susah. Mari kita lihat ibu kita. Pagi-pagi buta ia bangun. Menanak nasi.
Membangunkanmu. Memandikamu. Menyuapimu. Mengantarmu ke sekolah.
Mencium kedua pipimu. Lalu memikul kayu menuju pasar. Ditukarnya dengan
beras dan bebuahan segar.
Kau besar. Tegakah kau
menamparnya, menghardiknya, melemparnya ke panti jompo? Relakah ibumu
menderita, sengsara, dan menyikut sekeping kedermawanan dari tangan iba
manusia? Tegakah? Relakah??
Ibu, jika kau tega, robek mulutku.
Mulut yang membuat air susumu surut.
Ibu, jika kau tega, koyak perutku.
Perut yang membuat tubuhmu susut.
Ibu, jika kau tega, tusuk dagingku.
Daging yang membuat kulitmu keriput.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Jika itu sebagai bukti baktiku kepadamu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Jika itu sebagai jalan menuju surga di telapak kakimu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Jika itu satu-satunya syarat mencuci dosa-dosaku padamu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi hatimu yang tak henti kusakiti.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi mata air air matamu yang selalu kukuras.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi membayar hutang-hutang tunas kasihmu yang tak kuasa kubayar lunas.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi mantra-mantra dan doa-doa yang kau langitkan.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Aku tak tahu bagaimana cara mencintaimu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Aku ragu dengan segala yang kumiliki dalam membahagiakanmu.
Layak
kuproyeksikan Ibu bagai sebatang tebu. Tebu itu kita kupas, kita kerat,
kita peras. Ibu hanya menerima luka, sedang kita menikmati gula.
Jelas
kulukiskan Ibu seperti bumi. Bumi itu terhampar ikhlas. Bumi sebagai
wadah untuk menaruh benih-benih yang kiya muai. Bumi sebagai lahan untuk
menanam bibit-bibit tanaman yang kita ingini. Bumi yang tabah terhadap
cuaca yang marah. Bumi yang sabar terhadap perlakuan kasar. Bumi yang
tergar terhadap musim yang gegar.
Benih-benih pun tumbuh.
Ada yang jadi bunga, duri, ilalang. Namun semua kau asuh. Tak ada dari
mereka yang kau lebihkan dan kau sisihkan. Anak-anakmu dapat jatah yang
sama. Terkadang anak-anakmu nakal dan usil mengambil jatahmu. Kau tak
marah walau anak-anakmu suka bikin ulah. Anak-anakmu tertusuk onak duri,
kakimu yang berdarah. Anak-anakmu dipeluk bahagia, pelupuk matamu
mengalirkan air mata.
Ketika anak-anakmu sudah besar pun
tetap menjadi benalu. Benalu yang tak punya malu. Menggerogoti tubuh
rapuhmu. Memeloroti kasih ringkihmu. Menguliti daging doa lunglaimu. Kau
tabah dan tak mengusir anak-anakmu. Malah menyisir rambut-rambut kusut
anak-anakmu.
Ibu, berdosakah jika ada anak yang ingin
mengawinimu? Seperti Sangkuriang kepada Dayang Sumbi? Mungkin itu salah
satu cara mencintaimu? Ibu, berdoakah jika ada anak membunuhmu karena
ingin mengakhiri penderitaanmu? Ibu, berdosakah, berdosakah,
berdosakah??
Beribu kali aku menyakiti Ibu, sejuta kali
Ibu mengampuni. Beribu kali aku membenci Ibu, sejuta kali Ibu mencintai.
Seribu kali aku menyengsarakan Ibu, sejuta kali Ibu membahagiakanku.
Ibu begitu rela dengan segala kelakuan anak-anaknya. Ibu menerima
segalan yang menimpanya. Dialah yang lebih dulu bersedih kala aku
tertindih duka. Dialah yang lebih dulu bersedih kala aku tertatih-tatih
letih menyapih luka. Dialah yang lebih dulu berdarah kala aku jatuh.
Dialah yang lebih dulu menanggung malu kala aku berbuat dosa. Ibulah
yang lebih tahu akan riak ombak kegundahanku.
Aku mengisak. Jemariku menari menulis sajak. Ibulah guru sajak. Sejak kecil aku diajari mengabadikan yang retak. Ambil pensil dan tulis tangismu, nak.
Sajak adalah tungku Ibu
Tanak sesak jadi enak
Kayu mengabu, ajak aku pada debu
Sejak kanak menulis sajak
Kelak bijak bajak tangis dan koyak
Sesak selayak onak
Jadikan sajak sabagai sanak
Sejenak jenaka membagi semak
Oh hidup tak seindah kecupan pertama
Pohon roboh dibelai angin lembut.
Oh hidup tak seelok pinggul gadis
Pundak retak memanggul sepikul kabut..- SELAMAT HARI IBU, Ummiku Tercinta -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar