Tampilkan postingan dengan label Bidadari Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidadari Bumi. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2011

Indahnya Cinta Pertama


Cinta Pertama?? First Love? Pernah ngrasain kan?? Eits, tapi ini bukan cinta pertama versi anak SMA yang notabene cinta monyet itu, tapi inilah kisah cinta pertama saya.. begitu indah.. dengannya.. seseorang yang sangat saya cintai..
12 Oktober,  18 tahun silam..
Lunglai…
Tubuhnya terkulai lemah dengan sisa butiran keringat yang masih tampak berkilauan di dahinya. Perjuangan hidup mati yang menggadaikan jiwa baru saja usai. Semburat pucat di wajah pun perlahan lenyap. Namun ia tersenyum, lalu bibirnya melafadzkan hamdalah. Takzim dan tafakur…
Tak lama, sesosok mungil itu ada di hadapan. Dipeluknya dengan segenap kehangatan kasih sayang, padahal dirinya sendiri masih tampak lelah. Terlihat matanya berbinar-binar senang seraya tak henti-hentinya menyapa buah hatinya tercinta. Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata, air mata bahagia.
Bagai melepas kerinduan yang teramat dalam, pipi yang masih kemerah-merahan itu dicium dengan lembut dan kepalanya dibelai dengan manja. Yang dirindukan pun sedikit menggeliat.
Subhanallah, betapa indahnya ciptaanMu, ya Allah.
Mata kecilnya memang belum bisa melihat dengan sempurna, namun nalurinya berkata, dirinya berada di tangan seseorang yang sangat mencintainya.
Elusan lembut dan sapaan yang sering terdengar saat masih di dalam rahim, kini dapat dirasakan. Aura cinta pun memancar dari kedalaman hati seorang ibunda, menyelimuti sang buah hati yang baru saja menyapa dunia dengan lengkingan tangisannya.
Indah.. bahkan teramat indah..
Cinta ibunda memang cinta yang paling indah. Cinta itu selalu ada di sisi mereka, dan tiada pernah ragu untuk dilimpahkannya. Merekalah yang tak pernah kenal lelah menjaga dan membesarkan kita semua. Bahkan, ketika kita belum mengenal sepatah kata, ibunda jua yang mengajarkan tentang makna kasih sayang dan cinta.

Adakah cinta yang dapat menyaingi cinta ibunda??
Betapa dengan kasihnya, masa kehamilan dilewati dengan keikhlasan dan kesabaran. Perasaan mual, pusing, ditambah dengan membawa beban di perutnya yang semakin hari semakin berat, hingga saat antara hidup dan mati ketika melahirkan, tak akan tergantikan oleh cinta-cinta lain yang penuh kepalsuan.
Ibunda pun bagaikan pelabuhan cinta bagi anak-anaknya. Kerelaan mereka untuk sekadar disinggahi, lalu ditimbun dengan segala resah dan gundah, bahkan amarah, hanya dibalas dengan senyum kesabaran. Tak heran, seorang ibunda sanggup memelihara sedemikian banyak anak yang dilahirkannya, namun belum tentu satu anak pun bersedia menjaga dirinya hingga beliau tutup usia.
Aaahhhhhh...
Rasanya kita semua pernah mengalami jatuh cinta. Dan, cinta pertama itu selalu terhatur pada seseorang yang selalu berada di samping kita, tempat curahan, suka dan duka. Ketika lapar, dengan tangannya, ia menyuapkan makanan, diberikannya air susu dengan tulus saat kita haus, hingga diajarkannya berakhlak mulia bagaikan Rasulullah SAW, uswatun hasanah.
Ibunda memang bukan hanya madrasah pertama bagi anak-anaknya, tapi ibunda adalah cinta pertama kita..
Dan, apakah ada cinta yang paling indah daripada cinta pertama??

Jemari itu tak lagi lentik
Mata rabun dan kaki semakin payah
Namun tak pernah cinta luruh dari sisinya
Disemainya doa hanya untuk ananda tercinta
Selalu..
Ibunda, cinta ini tak akan luntur untukmu..

Tetaplah Bersama Ibu, sebab Surga Terletak di Bawah Telapak Kakinya
Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah, dia berkata : Seorang pria datang menemui Rasulullah SAW, lalu dia berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku ingin ikut berperang dan aku datang meminta pendapat engkau’. Rasulullah SAW bertanya ‘Apakah kamu masih mempunyai ibu?’ Pria itu menjawab :’Masih!’.Rasulullah SAW bersabda :’Maka tetaplah bersamanya, sebab sesungguhnya surga itu terletak di bawah telapak kakinya’.(HR. Nasa’i)

Bila kuingat masa kecilku, ku slalu menyusahkanmu
Bila kuingat masa kanakku, ku slalu mengecewakanmu
Banyak sekali pengorbananmu yang kau berikan padaku
Tanpa letih dan tanpa pamrih
Kau berikan semua itu
Engkaulah yang kukasihi
Engkaulah yang kurindu
Kuharap slalu doamu
Dari dirimu ya IBU..
Tanpa doamu takkan kuraih
Tanpa doamu takkan kucapai
Segala cita yang kuinginkan
Dari dirimu ya IBU..
(Ingatlah Ibu_Shoutul Haq)

Ku awali hidup ini dengan tangisan yang menggema
Lalu ku dipeluk dibuai dalam ikatan kasih dan cinta
Sampai saat ku mulai menapak dan mengucap kata
Hingga akhirnya ku pahami apa arti duka dan cinta
Terima Kasih Ananda haturkan tuk Bunda tercinta
Sungguh tiada mampu Ananda membalas segala jasa
Mungkin hanya ini kuasa Ananda tuk lukiskan cinta
Melalui rangkaian kata yang terpahat menjadi prosa
Ya Allah, cintai Ummiku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ummi..
Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil.
Betapa aku sangat mencintainya, begitu mencintainya…

"Titip Ummiku ya Allah"
“Jagalah beliau ketika penjagaanku tak sampai padanya”
AAMIINNNN…
_Nur Annisa Muhida_
Jakarta, 170211_03:27

17 Maret 2011

SEJENAK RENUNGI SEBUAH JALINAN

Persahabatan adalah suatu rasa..
Aku rasa kamu dan kamu rasa aku..
Seorang sahabat kan kucurkan butiran air yang menjelma menjadi hujan menyiramkan kasih sayang dalam jalinan insan pengikutnya.
Bak gerimis yang ditumpahkan setetes demi setetes dari langit pada bumi yang telah lama mendambakannya
Kering.. telah terkikis.. sedikit demi sedikit..!!

Kuucap syukur & terima kasih wahai Sahabat…
Berkat kamu aku jadi tahu makna kehidupan ini
Kau beri ku kepercayaan dan kau hargai aku!
Kau warnai dengan cat keindahan…
walau kadang suatu noda tercipta pada kertas putih lambang PERSAHABATAN kita…

Persahabatan tak kan kering oleh sengatan Sang Raja Siang…
Persahabatan adalah rona indah pelangi sesaat
setelah hujan dengan variasi warna & dipuja oleh jiwa yang dapat mengetahui maknanya.
Ketulusan seorang SAHABAT takkan terusik bayu yang menerbangkan payung pelindung diri…
Persahabatan penuh sejuta rasa pada sekian banyak kondisi…
Persahabatan akan selalu penuh warna berbeda, bukan hampa tak berasa, tapi kelabu, merah, biru, kuning, & hijaunya kan mengiringi perjalanan waktu persahabatan itu…

Insannya kan dekap & peluk ruh insan lain…
Ia akan membelai & menjabat hati serta tangan saat sahabatnya menderu, menangis oleh badai prahara…
Hilangkan haru biru dukanya dengan tutur manis hingga ia dapat merasakan senyum tulus penyegar hati yang menghiasi bibirmu, hingga ia dapat tetap percaya & merasakan bahwa kita tetap membawa selimut persahabatan yang menghangatkan…!
Mencoba sunggingkan kembali senyum hatinya…

Sahabat takkan rela bila sahabatnya terhujam belati atau malah mungkin sahabatnya sendiri yg menancapkan belati itu…sehingga ia merelakannya!!!
TERLUKA…itu pasti !!! Dan mengerang adalah wajar…!!!
Tapi bila itu sampai terjadi, maka satu yg hanya mungkin kita lakukan… tetap mencintainya walau ia tak lagi ada di samping kita…


SAHABAT…ku kan kucurkan keringat yg selalu tulus…
Menyiramkan pada kuncup hingga berbunga kasih sayang
karena pengorbanan dalam jalinan ini adalah sesuatu yg membahagiakan bila tanpa dikotori harapan mendapat imbalan…

Insan-insan persahabatan takkan terkoyak oleh JARAK pemisah dua jiwa
selama mereka tetap mengibarkan panji persahabatan sejati…

SAHABAT…marahilah & tegurlah aku jikalau menurutmu salah, jangan sungkan ataupun ragu karena ku ingin
Allah SWT meridhoi kita semua…
Ikatan yg tentunya semoga kan tetap terjaga sampai akhirnya nanti,
kita kembali dipertemukan di masa yg lebih kekal…!!!

Wallahu a’lam bishowab…

21 Desember 2010

Perempuan Perantau, Perantau Pisau

Yang paling menyedihkan jadi perantau adalah ketika rindu dan sakit. Ketika rindu, hanya bisa mendengar suara dan memandangi potret yang hilang derit. Ketika sakit, senantiasa berdoa: Tuhan, jangan belit nyawaku di kota orang.

Entah kenapa jika membaca, menulis, mendengar, dan menyebut kata Ibu, saya terharu, gemetar, dan menitiskan air mata.

Aku yang diterbangkan angin nasib seolah memanggul kayu di pundak. Kutempuh jauh jarak dengan merangkak, memunguti butir-butir cahaya yang jatuh dari langit ketujuh.

Dulu aku pernah mengunduh bintang dan matahari untuk Ibu. Tapi jemariku melepuh, jemariku beranak pinak jadi dua puluh. Lalu Ibu memegang jemariku dan berkata, "Sudahlah nduk, tak usah susah unduh bintang dan matahari untuk Ibu. Cukup kau kecup peluh Ibu."

Dalam jaga dan tidurku, aku melihatmu, Ibu, menunggu kepulanganku di beranda rumah smabil mengasah pisau. Pisau buat menyembelih leher liat rindu. Jangan membawa keranda dalam kepulanganmu.

Ibu, sunyi-sunyi gesekan pisau dan batu asah itu seolah menujah-nujahku. Darah yang bersimbah di lantai kamarku menguapkan aroma daun pandan tubuhmu, wangi santan kelapa rambutmu, harum kesturi mulutmu.

Anakku, jika kau telah tiba, pisau ini akan menyayat urat nadi. Sejak pagi sampai malam hari ia menanti Ibu lelap. Ia membuka pelan-pelan pintu kamar. Mengendap-ngendap dengan mata lapar. Tapi tiba-tiba Ibu terbangun. Dan meletakkan kembali pisau di dapur.

Tidakkah kau seperti aku? Diliputi bayang-bayang di genang kenang. Serupa langit memanggil cahaya: Ibu.
Aku rindu engkau, Ibu.
Kalau engkau mata air, akulah air matamu yang mengalir.
Engkau mata air yang tak henti aku timba, kukuras untuk keperluan sehari-hari: mandi dan mencuci, minum dan memasak lukaku, membasuh bebuahan dan sayur mayur, berwudlu, juga untuk memandikanmu kelak kala engkau meninggal. Itulah mata airmu, Ibu. Dan jika aku meninggal, kumandikan jasadku dengan air mataku sendiri.

Akulah air matamu. Air mata yang kualirkan untuk cinta yang tak kuasa kubalas, tak kuasa kubayar dengan segala yang ada dalam tas. AIr mata yang kutumpahkan saat mengingatmu, yang tertawa bahagia melihatku dulu.

Kau melahirkanku dengan senyum, berharap aku menjadi bunga yang harum. Jika kau petani, kau harapkan aku jadi menteri pertanian. Jika kau buruh cuci, kau harapkan aku jadi juragan. Jika kau pelacur, kau harapkan aku jadi gubernur. Jika kau pengemis, kau harapkan aku jadi dermawan yang manis. Jika kau penjual kayu di pasar, kau harapkan aku jadi saudagar. Jika kau guru, kau harapkan aku jadi mahaguru. Jika kau sinden, kau harapkan aku jadi presiden.

Kau besarkan aku dengan air susumu sampai dadamu tipis dan air susumu habis. Kau tetap menyusuiku dengan air mata yang kauadon dengan embun pagi. Dan jika air matamu kemarau, kau berlari-lari mencari mata air di celah-celah bebatuan, di sela-sela akar kayu, di sempit dedaunan, di selebar langit. Kau tak menjerit saat tubuhmu melepuh oleh terik matahari, kakimu tertusuk duri, tersandung batu, tertembus kerikil tajam, tergores ilalang. Kau tetap menerjang setiap penghalang. Luka dan duka kau bawa berlari. Pedih dan perih kau rasakan sendiri. Kau masih mencari secangkir, sekendi, segentong air untuk menghapus hausku.

Kukenang bagaimana Siti Hajar berlari-lari mencari setetes air dari Bukit Shofa ke Marwa tujuh kali putaran. Ia sabar dengan cuaca kasar demi buah hatinya, Ismail. Ia tak peduli kaki tertembus kerikil. Ia tetap melangkah dalam lelah dan peluh yang luluh. Sampai Ia peroleh mata air dari jemari Ismail yang mungil.

Di mana ada kemauan, pasti tersedia jalan. Itulah sabda yang ingin kau tanamkan dalam dadaku. Semua keinginan akan terpenuhi jika ada kemauan. Segala harapan akan tergapai jika ada kemauan. Setiap impian akan terwujud jika ada kemauan. Bermacam cita-cita akan tergenggam jika ada kemauan. Kemauan adalah pintu menuju kajayaan. Kemauan adalah jendela menuju kemakmuran. Tiada kemauan, tiada kemenangan. Tiada kemauan berarti gagal total sebelum melangkah. Kemauan adalah modal awal untuk menapak menuju puncak. Kemauan adalah cahaya dalam gelap gulita. Kemauan adalah separuh kesuksesan.

Setiap pagi kau tuang secangkir cinta, segelas kasih, semangkuk sayang ke dalam mulutku. Sebagai bekal mengail ikan-ikan di sungai kehidupan.

Setiap siang kau menjelma serimbun pohon. Kau memayungiku dari sengat api matahari. Rimbun daunmu menenduhkan tubuhku. Buahmu mengeyangkan perut laparku. Tubuhmu berpeluh, tubuhmu melepuh. Dan aku tertidur pulas dikipasi angin semilir. Peluhmu mengalir. Mengalir dan mengalir.

Kala malam kau tambal robekan perjalananku. Kau jahit luka-luka di sekujur tubuhku. Luka itu mendewasakanmu. Kau basuh dukaku yang basah dan kau balut dengan munajat doa-doa berkah. Doa itu meng'ada'kanmu. Kau letakkan kepalaku di pangkuanmu. Lalu kau selimuti aku dengan bacaan ayat-ayatNya. Aku tidur mendengkur. Terlelaplah aku. Dan kau berjaga-jaga denga tegap dari serangan nyamuk-nyamuk terkutuk.

Ketika subuh kau mengunduh embun di rerimbun daun. Menampungnya ke dalam cangkir-cangkir. Lalu kau alirkan ke mulut hausku. Dam kau minum air mata dan keringat yang melekat di tubuhmu.

Kapan kau tidur, Ibu?? Maafkan anakmu yang belum mampu menjadi kasur dengkurmu.
Ibu memberi nasi, juga menyemai padi.
Ibu lahir, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya dengan susah bertambah susah. Mari kita lihat ibu kita. Pagi-pagi buta ia bangun. Menanak nasi. Membangunkanmu. Memandikamu. Menyuapimu. Mengantarmu ke sekolah. Mencium kedua pipimu. Lalu memikul kayu menuju pasar. Ditukarnya dengan beras dan bebuahan segar.

Kau besar. Tegakah kau menamparnya, menghardiknya, melemparnya ke panti jompo? Relakah ibumu menderita, sengsara, dan menyikut sekeping kedermawanan dari tangan iba manusia? Tegakah? Relakah??

Ibu, jika kau tega, robek mulutku.
Mulut yang membuat air susumu surut.
Ibu, jika kau tega, koyak perutku.
Perut yang membuat tubuhmu susut.
Ibu, jika kau tega, tusuk dagingku.
Daging yang membuat kulitmu keriput.

Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Jika itu sebagai bukti baktiku kepadamu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Jika itu sebagai jalan menuju surga di telapak kakimu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Jika itu satu-satunya syarat mencuci dosa-dosaku padamu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi hatimu yang tak henti kusakiti.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi mata air air matamu yang selalu kukuras.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi membayar hutang-hutang tunas kasihmu yang tak kuasa kubayar lunas.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Demi mantra-mantra dan doa-doa yang kau langitkan.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.
Aku tak tahu bagaimana cara mencintaimu.
Kutuk aku jadi batu, Ibu.

Aku ragu dengan segala yang kumiliki dalam membahagiakanmu.

Layak kuproyeksikan Ibu bagai sebatang tebu. Tebu itu kita kupas, kita kerat, kita peras. Ibu hanya menerima luka, sedang kita menikmati gula.

Jelas kulukiskan Ibu seperti bumi. Bumi itu terhampar ikhlas. Bumi sebagai wadah untuk menaruh benih-benih yang kiya muai. Bumi sebagai lahan untuk menanam bibit-bibit tanaman yang kita ingini. Bumi yang tabah terhadap cuaca yang marah. Bumi yang sabar terhadap perlakuan kasar. Bumi yang tergar terhadap musim yang gegar.

Benih-benih pun tumbuh. Ada yang jadi bunga, duri, ilalang. Namun semua kau asuh. Tak ada dari mereka yang kau lebihkan dan kau sisihkan. Anak-anakmu dapat jatah yang sama. Terkadang anak-anakmu nakal dan usil mengambil jatahmu. Kau tak marah walau anak-anakmu suka bikin ulah. Anak-anakmu tertusuk onak duri, kakimu yang berdarah. Anak-anakmu dipeluk bahagia, pelupuk matamu mengalirkan air mata.

Ketika anak-anakmu sudah besar pun tetap menjadi benalu. Benalu yang tak punya malu. Menggerogoti tubuh rapuhmu. Memeloroti kasih ringkihmu. Menguliti daging doa lunglaimu. Kau tabah dan tak mengusir anak-anakmu. Malah menyisir rambut-rambut kusut anak-anakmu.

Ibu, berdosakah jika ada anak yang ingin mengawinimu? Seperti Sangkuriang kepada Dayang Sumbi? Mungkin itu salah satu cara mencintaimu? Ibu, berdoakah jika ada anak membunuhmu karena ingin mengakhiri penderitaanmu? Ibu, berdosakah, berdosakah, berdosakah??

Beribu kali aku menyakiti Ibu, sejuta kali Ibu mengampuni. Beribu kali aku membenci Ibu, sejuta kali Ibu mencintai. Seribu kali aku menyengsarakan Ibu, sejuta kali Ibu membahagiakanku. Ibu begitu rela dengan segala kelakuan anak-anaknya. Ibu menerima segalan yang menimpanya. Dialah yang lebih dulu bersedih kala aku tertindih duka. Dialah yang lebih dulu bersedih kala aku tertatih-tatih letih menyapih luka. Dialah yang lebih dulu berdarah kala aku jatuh. Dialah yang lebih dulu menanggung malu kala aku berbuat dosa. Ibulah yang lebih tahu akan riak ombak kegundahanku.

Aku mengisak. Jemariku menari menulis sajak. Ibulah guru sajak. Sejak kecil aku diajari mengabadikan yang retak. Ambil pensil dan tulis tangismu, nak.

Sajak adalah tungku Ibu
Tanak sesak jadi enak
Kayu mengabu, ajak aku pada debu

Sejak kanak menulis sajak
Kelak bijak bajak tangis dan koyak

Sesak selayak onak
Jadikan sajak sabagai sanak
Sejenak jenaka membagi semak

Oh hidup tak seindah kecupan pertama
Pohon roboh dibelai angin lembut.
Oh hidup tak seelok pinggul gadis
Pundak retak memanggul sepikul kabut..

- SELAMAT HARI IBU, Ummiku Tercinta -

13 Desember 2010

Wahai Akhwatku Sayang


Akhawatku sayang,

Kelibat mataku memandang tajam
Lantas butiran airmata jatuh berguguran
Melihat nasib pendukung agama,
Yang lemas terus dibawa arus,
globalisasi dan “kemodenan”

Akhawatku Sayang,
Wajah yang dulunya bersih,
dicoret dengan warna-warni untaian dosa.
Bibir yang dulunya suci,
diwarnai pelbagai warna yang menggiurkan.
Hijabmu ibarat senjata yang ampuh,
turut disalahgunakan.

Akhawatku Sayang,
Tempat yang suci dijadikan medan pertandingan,
dengan pameran busana yang memukau,
gandingan fesyen dan warna yang garang,
takkan terlepas dari lirikan mata yang memandang.

Siapa yang lagi menarik?
Siapa yang lagi cantik?
Siapa yang lagi ramai peminat?

Luar sedar, niat mula berubah,
tanpamu mengizinkan.
Akhawatku Sayang,
Cantiknya wanita itu,
bukan kerana ramainya lelaki yang memujamu.

Cantiknya wanita itu,
bukan kerana cantik dan mahalnya pakaian yang menutup auratmu.

Cantiknya wanita itu,
bukan kerana manjanya nada suaramu.

Cantiknya wanita itu,
bukan kerana kelembutan yang bukan pada tempatmu.

Cantiknya wanita itu,
bukan kerana keberanian yang salah di sisi agamamu.

Namun Akhawatku Sayang,
Cantiknya wanita itu terletak
pada bibirmu yang selalu berzikir,
pada mukamu yang bersinar dengan cahaya wudhuk,
pada hatimu yang penuh rahmah dan taqwa,
pada pendirianmu yang tak goyah,
memperjuangkan agamamu,
yang semakin hari semakin tenat,
kerana madrasah utama ummah,
hilang arah dan tujuan kehidupan.

Akhawatku Sayang,
Mengapa harus berbangga diri,
Tiada yang tinggal dalam jasadmu,
kecuali rohmu yang suci,
janganlah engkau kotorkan dengan palitan nafsu.
Yang menjadi pinjaman pasti akan dipulangkan,
kepada Pemiliknya kelak.

Akhawatku Sayang,
Sudah engkau menjadi amaran fitnah,
yang sudah termaktub sejak beribu tahun dahulu.
Apakah engkau sanggup merealisasikan
sebuah fitnah,
yang mampu menggoncang keimanan
setiap yang bernama lelaki?

Akhawatku Sayang,
Bukan diskriminasi Tuhan,
yang menciptakanmu sedemikian,
kerana engkau ibarat mutiara yang bernilai.
Yang sewajarnya dijaga rapi setiap ketika.

Selayaknya simpanlah kecantikanmu,
kepada yang layak engkau pamerkan.
Bahkan pahala yang bakal dikurnia,
jika diberi pada tempatnya dan tepat orangnya.

Penantian Seorang Akhwat, Kebingungan Seorang Ikhwan

Ada seorang teman bercerita kepada saya bahwa dia kebingunan untuk meminang akhwat yang dia sukai, karena dia merasa belum siap dan sebagainya. Padahal sebenaranya teman saya ini sudah sangat ingin untuk menikah. Ada juga teman yang bercerita kalau dia takut ditolak ketika mengkhitbah seorang akhwat karena dia belum mapan, masih kuliah, dan segudang alasan lainnya.

Itulah beberapa realilta yang dihadapai oleh sebagian Ikhwan (kalau ngga mau dikatakan mayoritas). Dimana mereka merasa kebingungan dan ketakutan ketika akan mengkhitabah seorang akhwat.
Kalau dilihat secara seksama, sebenarnya kebingungan bukan hanya monopoli pihak Ikhwan saja. Akhwat pun sebenarnya juga dilanda dengan kebingungan yang hampir sama. Mereka bingung kenapa belum ada Ikhwan yang mau meminangnya. sehingga Akhwat mengalami kebingungannya dalam penantian seorang Ikhwan berkudah putih yang akan membawanya pergi.

KETIKA AKHWAT MINDER IKHWAN PUN JADI KEDER..

Sebenarnya banyak aspek yang membuat banyak Ikhwan merasa bingung untuk meminang seorang Akhwat setidaknya mereka (para Ikhwan) memiliki salah satu dari 5 alasan berikut :
1.  Akhwatnya anak orang kaya.
2.  Akhwatnya orang pinter (juara umum atau ahli dalam kalkulus).
3.  Akhwatnya termasuk The best Quality atau Limeted Edition (hehehe kayak barang aja yachh?) sehingga terlalu banyak saingan.
4.  Beda suku atau Beda Strata sosial (kasta), maklum bila Ikhwan berkasta Sudra maka akan sangat sulit mendapatkan Akhwat dengan kasta diatasnya. atau si Akhwatnya berdarah biru sedangkan si Ikhwanya berdarah abu-abu.
5.  Si Ikhwan merasa belum mapan secara Finansial. inilah 5 alasan yang sering terlontar dari mulut seorang Ikhwan ketika dia akan meminang seorang Akhwat.

Jadi bila diperhatikan sekarang ini banyak ikhwan yang terkena penyakit WAHM alias HUBBUL MAR’AH WAKAROHIATUN NIKAH = CINTA WANITA DAN TAKUT NIKAH.

Terkadang Akhwat membuat seorang ikhwan semakin tambah bingung dengan ungkapan akhwat “Saya ingin menikah dengan Ikhwan yang memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap” (maksudnya si ikhwannya memiliki pekerjaan yang bagus dan gajih diatas 2 juta perbulan.-matre juga ya ini Akhwat).

Pernah ada cerita dari seorang teman yang mencoba melamar seorang Akhwat. Ketika hendak di pinang akhwat tersebut berkata “Afwan akhi ana merasa tidak pantas untuk akhi, diluar sana masih banyak Akhwat yang lebih pantas untuk akhi”. saya katakan ini akhwatnya yang minder, atau pura-pura minder untuk menolak lamaran si Ikhwan dengan cara yang teramat sangat halus. padahal maksud dari perkataannya adalah “maaf akhi, saya rasa Akhi ga pantas untuk saya atau maaf akhi saya ga suka sama akhi jadi cari aja Akhwat yang lain”. jadi sekarang ternyata banyak akhwat yang terlalu pandai ber apologi.

logikanya setiap orang waras dan normal tentu dia menginginkan orang yang lebih baik atau orang yang dipandang baik untuk menjadi pendamping hidupnya.jadi akhwat yang telah di Tarbiyah dan memahami Islam dengan baik tentu tidak akan berkata seperti itu. akan tetapi dia akan berkata “kalau memang saya di pandang pantas untuk akhi” atau kalau ini yang terbaik” dan semisalnya.

PILIH HARTA, FISIK, ATAU AGAMAnya??

Rasulullah SAW pernah bersabda “budak Habsyi yang hitam legam tetapi dia memiliki agama yang bagus (shaleh) sesungguhnya lebih baik bagi kalian”. Banyak Ikhwan ketika memilih seorang akhwat selalu melihat dari bentuk fisiknya demikian juga dengan akhwat banyak juga akhwat yang melihat ikhwan itu dari Fisik dan Hartanya.

Ketika saya ketengahkan hadist nabi diatas banyak yang berkilah bahwa kalau dapet yang plus plus itu kan lebih utama, ya kaya, cantik dan shalehah. Tetapi muncul satu pertanyaan apakah kita akan menunggu sampai lebaran monyet untuk bisa menemukan akhwat seperti itu??

Kenapa kita terkadang melihat orang dari Fisiknya? Bukankah Fisik itu akan berubah seiring dengan bergantinya hari dan bertambahnya usia? Kenapa banyak ikhwan mencari Akhwat yang kaya, padahal yang wajib mencari nafkah itu adalah laki-laki? Bukankah kekayaan Istri itu tidak bisa menjadi milik suami?

Bagi Akhwat juga sama, mereka juga kadang mencari Ikhwan yang ganteng, yang Tajir Mampus dan Shaleh. saya kadang berfikir apakah si Akhwat ini lupa bahwa bentuk Fisik dan Harta itu Allah yang mengatur? Tidak ada orang yang mau berbentuk Fisik jelek dan Hidup miskin.

Kenapa Allah dan RasulNya memerintahkan kepada kita untuk mencari pasangan hidup itu berdasarkan ke Shalehannya (agamanya)? Karena ke keshalehan itu adalah proses diri, dan ini adalah pilihan yang ada dalam wilayah kemampuannya. Seseorang apakah dia mo jadi seorang ahli ibadah atau ahli maksyiaat itu adalah pilihan hidupnya.

Ini berbeda dengan harta dan fisik dimana semuanya telah ditetapkan oleh Allah sehingga kita tidak bisa berbuat apa apa untuk merubahnya. dalam masalah harta, Allah hanya mewajibkan kepada kita untuk berusaha semaksimal mungkin. Bahkan ada hadist yang mencela seseorang yang menikah karena harta dan fisiknya.karena Harta dapat memperbudak dan Fisik dapat mencelakakan.

Rasul pernah bersabda kalau menikah itu adalah sebagain dari kesempurnaan agama. kenapa begitu? Karena seorang Ikhwan yang Shaleh akan menjadi penyempurna agama istrinya, demikian juga Akhwat yang shalehah akan menjadi penyempurna agama suaminya. inilah maksud firman Allah “kalian (laki-laki) menjadi pakaian baginya (istri-istriya) dan kalian (istri) menjadi pakaian baginya (suami). fungsi pakaian adalah saling mentutupi. demikian juga suami istri mereka saling menutupi setiap kekurangan pasangannya. mereka saling mengingatkan bila salah, saling menyemangati bila lelah, saling menasehati bila lupa, dan bahu membahu menggapai ridha Ilahi.

NIKAH BEDA HARAMKAH???

12 Desember 2010

Sepaket Hadiah dari Allah [ Sahabat ]


Sahabat, kaulah yang menaruh bintang dalam mata, hati, dan genggamanku. Kau tak pernah meninggalkanku. Mungkin sesaat aku tak melihatmu di bawah terik matahari. Tapi ketika sampai pada malam, kau selalu di sana menjelma pelita. Di lorong paling gelap dan berdebu. (Abdurrahman Faiz)

"Teman-teman akrab pada hari itu (kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa." (QS. Az-Zukhruf : 67)

Ukhti, aku ingin kita terus berjalan bersampingan di dunia dan akhirat nanti, dengan persahabatan yang senantiasa mengarah pada ketakwaan, karena sahabat sejati bukan hanya sekedar tempat berbagi suka dan lara, tapi juga sebagai penguat iman dan takwa. Karena itulah aku menyebutmu sebagai sepaket hadiah Tuhan untukku.

Ukhti, saat kita dekat, ingatkanlah aku selalu jika ada laku yang mungkin mendatangkan murkaNya. Dan saat kita jauh, selipkanlah selalu aku dalam doa-doamu, semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Ukhti, semoga nanti di hari akhir, hari dimana tiada kekuatan melainkan kuasaNya, saat banyak orang yang menjadi bermusuhan dengan karibnya saat di dunia, kita tetap menjadi sahabat. Karena itu, jagalah selalu persahabatan ini agar selalu menapak di atas aturanNya.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran : 8).

10 Desember 2010

Doa Dalam Sujudku












Aku bertawasul kepadaMu
Menyampaikan keinginan kepadaMu
Mengharap anugerahMu
Menanti pemberianMu
Memohon ampunanMu
Bersimpuh di hadapanMu
Takut kepadaMu
Mengakui segala perbuatanku
Merintih dan mengadu kepadaMu

Aku bermohon kepadaMu
Demi kitab-kitabMu yang suci dan mulia
Yang di dalamNya asmaMu dijunjung tinggi

Tak ada daya dan upaya
Menghadapi kegalauan hati ini
Kecuali daya dan upaya
Yang Engkau anugerahkan kepada para hambaMu
Anugerahilah kemampuan
Bagi hatiku untuk memilih jalan yang terbaik
Yang lurus bagi hidupku
Dan mulia bagi para sahabatku

Ya, Allah
Seandainya dia adalah jodohku
Dekatkanlah dia kepadaku
Seandainya dia sahabatku
Dekatkanlah dia pada jodohnya
Demi kemuliaan wajahMu
Daku memohon pertolongan
Sampaikanlah shalawat dan salamku
Kepada Rasulullah Saw.
Dan keluarganya yang terkasih

Akhwat Sejati

Seorang gadis kecil bertanya kepada Ayahnya, " Abi, ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati."
Sang Ayah tersenyum dan menjawab :
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya,
Tetapi dari kecantikan hati yang ada di baliknya
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona,
Tetapi dari sejauh mana ia menutupi tubuhnya
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan,
Tetapi dari keikhlasannya memberikan kebaikan tersebut
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari keahliannya berbahasa,
Tetapi dari bagaimana caranya ia berbicara
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian,
Tetapi dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari kekhawatirannya digoda orang dijalan,
Tetapi dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani,
Tetapi dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur
    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul,
Tetapi dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul
Setelah itu, gadis itu bertanya lagi, “Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, ya Abi?” Sang Ayah memberinya buku dan berkata, “Pelajari tentang dia.” Sang gadis kecil pun mengambil buku itu. ‘Istri Para Nabi’, judul yang tertulis di buku itu

Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu

Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…” (SMS dari seorang sahabat)


Membaca SMS di atas,
mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup wanita. Namun sayang, banyak sebagian dari kita (kaum wanita) yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,
الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)
Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.
Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada wanita telah pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita (yang seharusnya) menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria.
Allah telah menetapkan fitrah wanita dan pria dengan perbedaan yang sangat signifikan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam akal dan tingkah laku. Bahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya; ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya’, Allah telah menetapkan hak bagi wanita sebagaimana mestinya. Tidak sekedar kewajiban yang dibebankan, namun hak wanita pun Allah sangat memperhatikan dengan menyesuaikan fitrah wanita itu sendiri. Sehingga ketika para wanita menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu pun itu menjadi hak baginya. Setiap wanita, terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.
Sayangnya, hanya sedikit wanita yang menyadari hal ini…
Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Miss Universe’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…
Apakah mereka tidak menyadari, kelak di hari tuanya ketika kecantikan fisik sudah memudar, atau bahkan ketika jasad telah menyatu dengan tanah, apakah yang bisa dibanggakan dari kecantikan itu? Ketika telah berada di alam kubur dan bertemu dengan malaikat yang akan bertanya tentang amal ibadah kita selama di dunia dengan penuh rasa malu karena telah menanggalkan mahkota kemuliaan yang hakiki semasa di dunia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)
Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian beliau berkata,
إن كنتن مؤمنات فليس هذا بلباس المؤمنات وإن كنتن غير مؤمنات فتمتعينه
“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.” (disebutkan dalam Ghoyatul Marom (198). Syaikh Al Albani mengatakan, “Aku belum meneliti ulang sanadnya”)
Betapa pun Allah ketika menetapkan hijab yang sempurna bagi kaum wanita, itu adalah sebuah penjagaan tersendiri dari Allah kepada kita—kaum wanita—terhadap mahkota yang ada pada diri kita. Namun kenapa ketika Allah sendiri telah memberikan perlindungan kepada kita, justeru kita sendiri yang berlepas diri dari penjagaan itu sehingga mahkota kemuliaan kita pun hilang di telan zaman?
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 13)
Wahai, muslimah…
Peliharalah rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan public.
Wahai saudariku muslimah…
Kembalilah ke jalan Rabb-mu dengan sepenuh kemuliaan, dengan rasa malu dikarenakan keimananmu pada Rabb-mu…